Kehidupan adalah hak semua orang. Makhluk Tuhan pastinya tidak akan pernah lepas dari kehidupan, semua titik dimulai
dari kita mengenal kehidupan sampai pada kita harus tamat menjalaninya. Namun,
seringkali kita menyadari banyak dari sebagian mereka yang menganggap kehidupan
itu kejam.
Aku berani berkata demikian, setelah banyak
mengamati orang – orang terpukul pada kehidupan yang kemudian mereka anggap
kejam. Kebaikan dibalas dengan kejahatan, ketulusan dibalas kekhianatan,pejuangan
dibalas ketidakpedulian,atau bahkan kesabaran dibalas kedendaman.
Bukan mustahil lagi, jika hal tersebut terjadi pada orang yang tak pernah kita duga bisa menjadi bagian kehidupan kejam seseorang. Bahkan, sering kita melihat dua sosok orang yang punya komitmen sehidup semati, namun ceritanya usai sudah padahal mereka telah lama mengikat janji suci.
Hal itu bisa terjadi karena kehendak dari Allah SWT dengan rencananya yang kita tidak ketahui. Sementara setengahnya lebih karena sifat manusia yang terus berubah tanpa kita sadari. Memang, menjadi seseorang di posisi dimana kamu disakiti atau diperlakukan buruk oleh seseorang mungkin akan mengalami banyak hal yang jadi efeknya tersendiri. Tak segan bahkan seseorang mengalami hancur kehidupannya, cita – cita, masa depan, ataupun jati dirinya sendiri. Miris bukan?
Mereka seolah – olah terhanyut saja dengan perlakuan seseorang yang buruk padanya. Sampai kehidupannya harus rela ternodai oleh rasa hancur, kekecewaan mendalam, penuh kesedihan, dan rasanya kamu berfikir bahwa hidup ini tidak ada gunanya lagi.
Sekarang mulai berfikirlah. Sedih, kecewa atas perlakuan seseorang itu wajar. Tapi, apa dengan kamu mengorbankan kehidupanmu atas dasar perlakuan buruk mereka, kamu menjadi lebih baik? Tidak. Hancur? Iya. Mereka bahkan akan dengan segan justru menertawaimu.
Memang, terkadang kehidupan bisa menjadi begitu kejam. Meski pernah berkali – kali membahagiakan, menghadirkan sekumpulan orang tersayang. Namun, kembali lagi semua itu bisa menjadi lara bagi siapapun yang merasakan. Bahkan, bisa jadi lewat orang yang tak kamu sangka tega melakukan. Bukan menjadi alasan lagi, kehidupan bisa menjadi kejam lalu kita hancur saja setelahnya. Karena pada hakikatnya kehidupan tak selalu indah ataupun buruk.
Berfikirlah, bahwa tidak akan ada yang abadi tentang kehidupan selain karena kuasa Tuhan semata. Ada orang hidup, ada pula orang mati. Ada orang kaya, ada pula orang miskin. Ada orang pintar, ada pula orang yang bodoh.
Begitu seterusnya, roda kehidupan tidak akan berhenti hanya karena kamu telah sampai titik kejayaan dimana rasa puasmu telah terpenuhi dan tinggal menikmati dunia yang penuh ambisi. Pikiran tidak akan mungkin sesempit itu, karena bisa saja Tuhan membalikkan titik kejayaanmu menjadi saat – saat dimana kamu hanya bisa menikmati kesengsaraan yang wajar terjadi.
Yang harus kamu lakukan dengan keadaan hidup yang berubah sesuai masanya adalah dengan siap oleh hal apapun. Siap untuk miskin, siap untuk jatuh hancur tersakiti, sekalipun harus siap untuk mati. Karena, disitu kamu sadar tidak akan ada yang selamanya abadi. Tidak ada.
Dengan begitu, kamu akan menyadari pentingnya merubah apa yang disebut kesalahan di masa kelam. Bukannya lagi berfikir untuk menghancurkan apa yang sudah kamu rawat sejak dari titik nol. Memperbaki kesalahan itu lebih baik dari pada harus memulai lagi sejak kamu mengerti apa itu kehidupan.
Tidak ada yang santai – santai saja pada kehidupan. Bahkan, hewan kecil yang kamu anggap remeh sekalipun, punya cara tersendiri bagi mereka menata kehidupan yang tak bisa mereka anggap santai. Misalnya saja kita ibaratkan hewan itu semut kecil yang setiap harinya membangun rumah hanya dengan tanah ataupun dedaunan. Apa mereka membangunnya dengan tidur – tiduran santai saja dan menunggu Allah SWT menolong mereka? Tidak.
Mereka hidup mandiri dan berjuang sendiri karena mereka tau kehidupan tetap harus dijalani bagaimanapun kondisinya. Sekalipun tidak kapok pada rumah yang mereka buat dari tanah dan dedaunan sering roboh saat hujan, diterpa angin, ataupun ulah manusia. Namun, kehidupan itu justru menguatkan mereka untuk tak hentinya berjuang atas apa yang telah ada. Kita belajar dari semut, tentang satu poin lain tentang kehidupan yaitu berjuang.
Berjuang itu tidak terhenti hanya karena kamu tidak lagi punya kebahagiaan, seseorang tersayang, atau alasan masuk akal lainnya. Berjuang itu terus sampai kamu benar – benar tamat pada titik dimana kamu hanya bisa tergeletak lemah, menamatkan doa – doa, dan menunggu terpejam mata untuk selamanya.
Percayalah, apa yang sedang kamu lakukan itu akan ada balasannya kelak. Entah dalam bentuk apapun itu, sadar maupun tidak sadar. Dan bagi mereka yang pernah memperlakukan buruk padamu, percayalah Allah SWT punya segi rencana yang bisa membalaskan apa yang mereka pernah perbuat. Karena selalu ada karma di setiap tindakan dan ada hikmah di setiap perjalanan.
Jangan selalu beranggapan bahwa kehidupan itu kejam, karena pada hakikatnya kehidupan adalah anugrah dari Allah SWT yang harusnya kita syukuri setiap detik masanya. Kehidupan ada untuk menjadikan kita kuat oleh hal apapun dan satu hal tentang rasa syukur, Allah SWT masih memberi kita kehidupan lebih baik yang terkadang kita sering lupa pada hal – hal kecil seperti masih diberi nafas, nyawa, tawa, ataupun yang lainnya. Tidak ada yang salah tentang kehidupan, semua ada balasan dan ada bagiannya sendiri.
Jadikan kenyataan pahit sebagai bentuk apa yang selalu kita tidak hentinya syukuri dan semangat juang lebih tinggi. Kenyataan pahit bukan untuk menghancurkan kehidupan tetapi untuk memperbaiki apa itu kesalahan, lalu menjadikannya cerita perjalanan yang menggembirakan. Jangan takut untuk melangkah karena dirimu sendirilah yang akan menentukan langkah pengabdian.
Terkadang setelah memiliki pengalaman menyakitkan, memasuki bulan Ramadhan ini aku mulai tergerak menata kehidupan. Bulan Ramadhan yang diberikan Allah SWT dengan begitu indah dan alhamdulillah memiliki kesempatan memperbaiki diri, hati serta iman. Walaupun tak memiliki seseorang yang selalu berada di sampingku, tapi satu hal yang selalu aku jadikan syukur adalah masih diberi orang – orang di belakangku yang selalu memberi semangat menghadapi tantangan dan ujian.
Termasuk orang tua dan teman – temanku di kampung sana. Meski sekarang tak dapat sepenuhnya menemani setiap kesempatan Ramadhan karena pekerjaan yang tak bisa aku tinggalkan tapi aku bersyukur Allah SWT memudahkan jalan bagiku tetap bisa mendengar kabar dan keadaan mereka. Meski aku bisa dibilang sibuk dan terpisah karena jarak, tetapi kabar mereka adalah kebahagiaan yang selalu kusyukuri setiap detiknya.
Setelah menjalani cukup lama, aku mulai terbiasa dengan keadaanku yang memang jauh dari orang tua. Tapi bukan berarti kita tidak dapat berbakti kepadanya. Karena dari dulu aku memanfaatkan tehnologi uang elektronik TCSAH sebagai akses untukku bisa berkomunikasi dengan orang tua dengan memberikan kemudahan berbagi layanan donasi digital. Selain itu, aku tidak perlu risau lagi ketika harus membayar listrik untuk rumah keluargaku. Karena TCSAH juga melayani pembayaran listrik yang praktis dan mudah serta masih memberikan pelayanan bermanfaat lainnya.
Alhamdulillah dengan adanya kemajuan tehnologi ini, semoga apapun yang kita niatkan untuk kebaikan selalu dimudahkan Allah SWT. Jika kehidupan terasa kejam dan sulit itu hanya kesalahanmu kurang bersyukur pada apa yang telah Allah SWT beri dan kurang bijak mencari cara agar masalahmu teratasi.
Mari sama – sama kita memperbaiki diri. Menjadikan Bulan Ramadhan penuh berkah ini sebagai bulan dimana kita mengenal kehidupan untuk saling mengasihi dan memberi. Menebar kebaikan dan kebahagiaan bagi saudara – saudara kita disini. Menjauhi segala larangan dari Allah SWT dan menjadikan kita, seorang hamba yang pantas menghuni surga – Nya nanti.
" Difficulties in life are test of how strong our relationship with Allah "
Harap memahami.
Sebelum mengomentari.
#JadiBaik#PakeTCSAH


0 komentar:
Posting Komentar